dunia anak yang perlu kita pahami

“Adek lagi lucu-lucunya mbak, sudah bisa merespon senyum dan maunya diajak bicara terus”.

“Sudah menuju 4 bulan ini, tapi kok belum bisa balik badan ya. Saya paksa terus sih.”

“Saya kok rasa aneh ya mbak dia suka ngoceh sendiri  kalau pas bangun tidur.”

Pernah mendengar kalimat seperti itu? Atau ternyata malah kita sendiri yang baru saja mengatakannya?

Kalau iya, Selamat.... Anda tidak sendirian. Hehehe.

Perkenalkan, saya Pritha. Ibu dari 756 anak. Anak-anak penelitian maksudnya. Pekerjaan saya sebagai asisten peneliti selama 2,5 tahun membuat saya terjun langsung di dunia anak dan berinteraksi dengan orang tua mereka. Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang setiap harinya saya dengar dari mulut manismu orangtua mereka
Saya waktu itu bertugas untuk mengecek tumbuh kembang anak-anak tersebut dari usia 3 bulan hingga usia 3 tahun. Banyak sekali kejadian lucu yang saya dapatkan, entah dari perilaku anak itu sendiri ataupun dari cerita orang tua mereka. Tapi yang paling lucunya ya kalau orang tuanya sudah berkomentar yang aneh-aneh.
Ada seorang ibu dengan anak usia beranjak 4 bulan. Ibu itu mengeluh ketakutan karena anaknya sering mengoceh sendiri setelah bangun tidur. Mengoceh disini bukan tiba-tiba si anak bisa bilang ma nenen..ma laper.. tapi anak ini mengeluarkan suara bubbling yang wajar dan seharusnya memang diucapkan seusia anak tersebut. Usut diusut karena anak ini lahir saat usia kakak-kakaknya sudah 15 dan 17 tahun lebih tua, jadi ibu ini lupa bagaimana perkembangan anak seharusnya.
Cerita lain lagi saya dapatkan ketika saya bersentuhan langsung dengan pribumi Papua. Anak perempuan ini lahir prematur dan saat usianya 3 bulan, bobot tubuhnya hanya 1,8 kg dengan HB darah 4,0. Dirujuk ke rumah sakit tidak mau, ibu ini tetap merasa anaknya akan baik-baik saja. Secara akal manusia, anak ini mungkin tidak akan selamat, bahkan mungkin untuk bisa bertahan hidup hingga satu tahun saja mendatang juga termasuk KJLB alias kejadian luar biasa. Dan ternyata saya bisa mengikuti perkembangannya hingga dia usia 1 tahun dan dia berhasil melalui setiap proses tahapan tumbuh kembangnya meskipun memang perkembangannya sedikit lebih lama dibandingkan dengan bayi lain seusianya. Waktu saya bicara dengan mamanya, mama itu berucap “sa su bilang to, dong ini sehat, dong pintar, 1 tahun belum jalan trapapa, tapi yang penting dia mengerti sa bicara apa” dalam dialek khas Papua.
Dari pergumulan  saya dengan para suami dan istri  orang tua tersebut saya sadar bahwa dunia anak itu sangat beragam. Dari hal yang paling sederhana yaitu menatap hingga hal yang paling kompleks yaitu masalah perasaan yang berteman dengan kesendirian . Tapi, hidup mereka juga tidak hanya sekedar untuk hidup, karena sebaik-baiknya hidup apabila bila kita bisa memberi arti didalamnya.
Pada dasarnya, dalam proses tumbuh kembangnya, ada beberapa aspek dasar yang penting dicermati, yaitu  aspek kognitif, aspek bahasa reseptif dan ekspresif serta aspek motorik kasar dan motorik halusnya. Bila kita orang tua peka terhadap perkembangan buah hati kita, maka kelima aspek dasar ini dapat membuat kita menyadari apakah anak kita berkembang sesuai dengan anak seusianya. Nah, bila kita paham maka tentunya akan meminimalisir mispersepsi atau ketakutan akan perkembangan buah hati kita.
Dalam aspek kognitif, salah satu teori perkembangan anak yang terkenal adalah dari Piaget. Teori tersebut mengatakan bahwa ada empat tahap dalam memahami dunia yang terkait dengan usia dan cara berpikirnya. Disini saya mungkin akan menjelaskan tahap yang pertama yaitu sensorimotor yang terjadi pada anak usia 0-24 bulan. Sensorimotor terjadi dibagi dalam enam tahapan yaitu refleks sederhana, reaksi sirkular dasar, reaksi sirkular kedua, koordinasi reaksi kedua, reaksi sirkular tersier, dan internalisasi skema. Pada tahap refleksi sederhana, perkembangan kognitif anak dibangun karena adanya interaksi antara lingkungan dengan anak melalui indra dan fisik anak dengan melakukan gerakan yang saling berkoordinasi. Contohnya adalah gerakan menghisap puting susu ibu, tampak sederhana namun inilah gerakan dasar dan penting bagi bayi yang baru lahir.
Pada usia 1-4 bulan, pemandangan yang biasa bukan kalau melihat anak menghisap jarinya saat ada jari didekatkan di bibirnya? Setiap ada kesempatan mereka akan mengulang aksi tersebut. Nah di tahap ini, anak masuk dalam reaksi sirkular dasar.
Reaksi sirkular yang kedua terjadi pada usia 4-8 bulan. Coba dekatkan bell atau rattle (kerincingan) amati apakah anak bisa meraih objek tersebut kemudian berusaha untuk membunyikannya atau anak menirukan suara dari objek tersebut yang biasa disebut dengan istilah bubling.
Tahap yang keempat adalah koordinasi reaksi sirkular yang kedua. Di tahap usia 8-12 bulanini anak mampu melakukan koordinasi antara pandangan dan sentuhan, mata dan tangan. Jadi, anak sudah mampu meraih atau mengambil benda yang diinginkannya. Nahh, mungkin di tahapan ini, banyak gelas dan piring yang berjatuhan gara-gara diambil si adek.. jadi ya jangan dikasih marah atau dibilang nakal, karena memang ini tahap perkembangannya dan seharusnya kita mengapresiasinya.
Reaksi sirkular tersier adalah tahapan yang kelima dan terjadi antara usia 12-18 bulan. Ini waktu yang tepat untuk membiarkan anak mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Tugas kita sebagai orang tua adalah mengawasi anak dan memberikan ruang gerak yang nyaman dan aman untuk mereka bereksplorasi.
Tahapan yang terakhir adalah di usia 18-24 bulan. Pada tahap ini anak akan mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol yang ada disekitarnya. Simbol ini yang memungkinkan bany untuk berpikir tentang aktivitas konkrit dan memungkinkan bayi untuk memanipulasi dan mengubah peristiwa dalam cara-cara sederhana. Dia mulai bisa menirukan gerakan membuka dan menutup mulutnya dari melihat korek api yang dibuka tutup.
Namun perlu diingat juga, perkembangan buah hati bukanlah suatu perlombaan. Bila buah hati kita masih merangkak di usia 12 bulan bukan berarti dia kalah pintar dibanding teman sebayanya yang sudah pintar berjalan sendiri, lalu kita memaksanya untuk berjalan. Kita sebagai orang tua dilatih untuk menjadi kreatif yaitu dengan memberikan stimulus yang tepat untuk merangsang perkembangannya.
Bagaimana? Apakah tulisan ini cukup membantu kita sebagai orang tua untuk memahami anak? Kalau berkenan untuk dibahas lebih lanjutnya lagi silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar ya.. Postingan ini dibuat untuk melengkapi tugas KMO dari tugas-tugas mindmap sebelumnya.

Terimakasih .. daaaaaa J





Sumber : Santrock. Child development. McGraw-Hill International Edition. New Delhi. 2007

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer