Timika - Eme Neme Yauware


Timika? Papua? Apa yang kalian bayangkan bila mendengar salah satu kabupaten di Papua ini?
Freeport – nya ?
Masyarakatnya ?
Berita tentang perangnya?
Atau kalian sedang memiliki rencana kunjungan kesana dan belum memiliki bayangan sama sekali tentang daerah tersebut?

Sini..sini.. sedikit saya bantu ceritakan pengalaman saya selama disana ya…
Jadi, Juni 2014 lalu saya berkesempatan untuk mulai bergabung di salah satu LSM di Timika. Saya terlibat dalam suatu penelitian tentang malaria pada bayi yang ibu hamilnya terdaftar dalam fasilitas kesehatan (puskesmas). Pekerjaan saya sebagai research assistant dari bidang psikologi mengharuskan saya untuk berdinamika dengan masyarakat karena saya harus melakukan kunjungan rumah setiap hari. Terbayang betapa enaknya pekerjaan saya, jalan-jalan keliling dari utara, timur, selatan, barat Timika. Hahahah……….
Pekerjaan tersebut membawa saya pada banyak perjalanan, baik perjalanan secara harafiah hingga perjalanan spiritual yang membawa saya pada titik perjalanan baru saya saat ini. Banyak orang bertanya pada saya, apa yang membuat saya mau dikirim ke Timika, apa yang membuat saya nekat melamar pekerjaaan kesana, orang tua setuju? Pasti kamu kerja di Freeport ya makanya mau kesana? Kamu ditawarin gaji gede ya disana? Yakin kamu bisa hidup disana, bukannya masih primitif ya? Nanti kalau kamu ketemu orang bawa panah gimana? Nanti kalau kamu kena malaria gimana, kamu bakal mati lho, malaria belum ada obatnya toh?
Bagaimana? Apakah contoh pertanyaan diatas juga mewakili pertanyaan kalian yang belum terjawab tentang Timika? Hehehehe. Bila iya… tenang.. kalian tidak sendirian. Saya bantu jelaskan satu persatu boleh ya, tapi sekali lagi, penjelasan saya murni hanya berdasarkan pengalaman saya selama tinggal disana. Bila ada perbedaan pandangan dan pendapat ya mohon dimaafkan, namanya juga manusia sis.. J

Kita mulai ya..

Kerja apa disana? Di Freeportnya ya?
  • FYI, saya kerja disana sebagai research assistant di salah satu yayasan local yang bernama Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua, yayasan ini bekerjasama dengan beberapa lembaga asing dan tentunya juga dengan beberapa lembaga milik pemerintah. Yayasan tempat saya bekerja ini, memiliki minat dan ketertarikan dalam bidang malaria. Kebetulan proyek yang waktu itu saya kerjakan, meneliti tentang malaria pada bayi dan hubungannya terhadap perkembangan kehidupan mereka dilihat dari segi kognitif, bahasa, dan motorik. 
  • Jadi, jangan Tanya saya gimana cara masuk Freeport. Masuknya sih tau. Tapi kerjaanya yang saya ga tau lah. Kalau kalian tujuan ke daerah Tembagapura dimana Freeport berada, kalian memang harus mendarat dulu di Bandara Timika lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke Tembagapura bisa menggunakan bus karyawan atau helicopter. Lokasi Freeport ini berada di area perusahaan, jadi untuk keluar masuknya ke area perusahaan juga dibatasi dan diawasi, salah satunya dengan penggunaan ID card.

Biaya hidup disana gimana? Besar ya? Pasti gaji disana juga besar ya.
  • Helllloooooo….. gaji gede. Tapi buat makan bebek aja harganya 50 ribu sissss…. Kalau mau ngafe ala sosialita gitu ya siapin aja sis 200 ribu. Mungkin karena waktu itu, masih jarang café dan tempat nongkrong ya, jadi harganya belum bersaing, kalau sekarang saya liat di postingan teman-teman sudah banyak café baru bermunculan. Dulu jaman saya, saya Cuma sering ke Rimba Papua untuk brunch di hari Minggu (lumayan bayar 150 ribu bisa makan sekenyangnya) , So Yummy, Waanal Café, terus café yang di jalan irigasi saya lupa namanya. Hehehe.  Mau karaokean juga udah ada inul vista dan happy Puppy, harga juga bersaing dan tolerable kok. 
  • Kalau mau tinggal disana, banyaknya sih disewakan rumah petak, perbulan bisa sekitar 1,3 – 1,5 juta, kalau satu kamar sekitar 900 ribu, kalau kos kamar aja sekitar 600 ribu tergantung lokasi ya, semakin kearah pusat kota harga semakin mahal ( ini berdasarkan cerita teman-teman saya yang ngekos ya).
  •  Saya sendiri dapat fasilitas dari kantor tinggalnya di salah satu rumah yang dimiliki kantor di area kompleks Rumah Sakit tapi bareng dengan teman-teman asisten peneliti yang lain. Dapet pengalaman tinggal rame-rame satu mess. Pernah saya tinggal paling banyak dengan 8 orang lainnya pria dan wanita, satu atap dan semuanya dewasa dan hampir seumuran. Satu dapur. Satu televise. Satu mesin cuci (mencuci baju pun ada gilirannya dan apesnya saat dapat giliran cuci, saat itu pula hujan deras melanda). Mobil kantor ada dua yang bisa digunakan dan harus bergantian kalau punya acara masing-masing, paling seringnya sih pergi rame-rame buat makan atau belanja di Diana Mall. Konflik sih pasti ada, tapi bagaimana caranya kita bersikap menghadapi mereka. Teman rasa saudara, karena saat suka duka ya mereka yang menemani. 
  • Pada dasarnya, sembako disana juga cukup terjangkau kok, pintar-pintarnya kita aja cari langganan dan rajin  ke pasar sore di pasar baru yang harganya lebih murah. Heheheh.Barang lain juga cukup terjangkau kok, kalau mau cari barang pecah belah bisa belanja di sekitar jalan pendidikan atau di toko Senyum 5000.
Di Timika ada apa aja?
  • Ada Bandar udara Mozes Kilangin, ada pelabuhan juga di daerah Pomako.Timika jelas memiliki fasilitas kesehatan, Ada RSUD Timika milik pemerintah. Ada juga Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) atau biasa dikenal juga sebagai RS Caritas karena letaknya di jalan Caritas yang dikelola oleh Lembaga Permasasyarakatan Amungme dan Kamoro. RSMM ini gratis untuk masyarakat 7 suku ( Amungme, Kamoro, Moni, Dani, Damal, Nduga, Mee ). 
  • Di timika terdapat beberapa restoran yang enak seperti Rimba Papua, Kuala Oriental, So Yummy, terus ada restoran di Jalan Budi Utomo, namanya Resto Jangkar. Kalau rumah makan yang palinggggg sering saya kunjungi itu di jalan Budi Utomo ada Warung bebek Arema, bakso Arema, terus kalau di Jalan Ahmad Yani ada Warung Pangkep yang jual konro bakar enak bangetttt…. Huuhuhuhu jadi kangen makannya. Kangen makan mie? Ada  di Jalan Belilbis, Pangsit Mie Malang Lima Dua (ya 20 ribuan harganya) terus ada lagi warung ramesannya tante Dayak dekat bundaran eme neme (enak, murah, porsinya banyak, ikan kuah kuningnya juga jawaaraaaaa). Mau makan bakso? Jangan sedih!!!! Buanyaakk banget yang jual bakso solo bakso wonogiri. Ada bakso pak Eko dekat Diana mall. Ada bakso solo depan kantor pos, ada juga yang terkenal di belakang kantor pos. Depan Kantor Pajak juga ada bakso Pak Edi. Bakso-bakso itu seporsi dijual 12 ribuan aja. Gimana? Ga punya uang ya makan bakso aja. Kenyang :D Lotek? Gadogado? Adaaaaaaa. Gado gado yang enak dan rame ada di depan Kantor Pajak. Tapi yo iku lho, mahal. Seporsinya dibanderol 25 ribu rupiah. Huehuehuee. Kalau andalan saya, warung loteknya budhe di daerah SP1 dekat stadion, Cuma 12 ribu rupiah aja.Jadi kalau masalah makanan ya jangan sedih, Timika yo uakeh kok warungnya. 
  • Timika juga punya beberapa hotel lho. Ada Hotel 66, hotel Kamoro, hotel Noken, hotel Grand Tembaga, yang mahal juga ada Rimba Papua Hotel dan terbaru ini ada hotel Horison. 
  • Timika juga punya mall, namanya timika mall. Tapi entah sekarang mallnya masih ada atau enggak. Ada satu lagi yang terkenal dan sekarang udah ada eskalatornya adalah Diana Mall. Hahaha. Tempat belanja sehari-hari. Ada Hero juga kalau mau belanja bulanan, tapi untuk akses masuk kesana harus swipe ID card yang dimiliki karyawan atau visitor yang sudah diverifikasi Freeport, bukan untuk masyarakat umum. Jadi ada baiknya kalau mau masuk Hero, pastikan sudah membawa ID ya. Harganya lumayan murah, soalnya disubsidi perusahaan. Hahaha.
Ada wisata ga di Timika?
  • Ada.. namanya kali pindapinda dan kalikali di sekitarannya. Tapi untuk akses jalan kesana sih lebih baik pergi berombongan, berangkat pagi, dan bawa bekal sendiri, karena jalannya sepi, dan tidak ada orang berjualan disekitar sana. 
    ini kali pindapinda
  • Tempat nongkrong sore ala anak gaul Timika ya duduk-duduk manja di sekitaran bandara sambil makan jagung bakar (saya berani sumpah, saya belum pernah sekalipun nongkrong disana, karena saya bukan anak gaulnya timika :p)

Timika kan rawan sis, ga takut tinggal disana?
  • Tenang aja, hampir disetiap sudut kota ini dijaga oleh om Te… om Tentara.. dan omPol.. om polisi.. Baru di Timika, saya benar-benar melihat eksistensi mereka. Maksudnya, kaya hampir setiap pandangan mata pasti melihat mereka yang berseragam. Mereka juga kadang memiliki pekerjaan ganda, selain menjaga keamanan masyarakat, mereka juga menjaga keamanan hati kita 
  • Saking rawannya, Timika dikenal memiliki kepanjangan Tiap Minggu Kacau. Sampai dirubah namanya menjadi Mimika, tetap aja Mimika (Minggu Minggu Kacau). Saya pernah punya pengalaman kurang menyenangkan, baru 1 bulan tiba di Timika, waktu itu bulan Agustus 2014, sudah terjadi perang suku, sampai-sampai segala bentuk aktivitas masyarakat menjadi “mati” selama kurang lebih seminggu. Banyak korban akibat perang ini dan ya tentunya membuat orang tua yang berada di Jogja khawatir –sampaisampai waktu itu beritanya heboh di televisi dan orang tua saya menelepon saya meminta saya untuk segera kembali ke Jogja saja karena kondisi tidak aman- untunglah, saya tinggal di kompleks RSMM sehingga saya dan teman-teman 1 mess aman, walaupun setelah itu kami kembali ke pekerjaan lapangan kami.
  • Sampai tahun terakhir saya disana, juga ada kekacauan cukup heboh yang diduga antara suku Kei dan Toraja. Sebenarnya, saya lebih setuju kalau kacau, ga usahlah bawa-bawa suku, kan yang bermasalah itu secara personal kok yang dibawa dan diangkat malah kesukuannya. Tapi ya begitulah, ya masih saja masih sering terjadi. Pernah dipalak dan ditodong pisau di jalan. Hmmm.. ini mungkin ada lebih dari 3 kali. Jadi modusnya, pas kita naik mobil, mereka ada di tengah jalan, menghadang mobil, meminta kita buka kaca jendela, atau kalau ga mereka udah bawa batu dan udah siap untuk melempar mobil dengan batu tersebut. 
    • Bila kalian dalam posisi tersebut, kuncinya hanya berdoa dan tenang. Pastikan mobil sudah terkunci aman. Buka kaca jendela namun tidak terlalu lebar, pasang mobil di gigi 1 dalam keadaan siap gas. 
    • Negosiasi permintaan mereka dan beri uang seminimal mungkin. I know I’m lucky yet blessed, saya punya Tuhan dan sopir yang handal sehingga saya dan teman-teman dijauhkan dari marabahaya yang lebih dari itu. Ada tempat yang paling sering terjadi konflik, namanya daerah Kwamki Narama. Daerah ini dihuni oleh suku Dani dan Damal. Entah kenapa memang ya, daerah ini paling seringgggggggggg konflik. Entah berkah atau musibah, anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini, beberapa diambil dari daerah tersebut dan pekerjaan saya yang harus turun lapangan ya mau tidak mau harus masuk ke daerah tersebut. Setiap ada jadwal kunjungan ke daerah tersebut, kami harus cari tau, konflik disana sudah mereda belum, bagian yang mana konflik, dan seperti apa konflik. Pernah saya dan teman-teman perawat nekat masuk ke daerah tersebut, tidak taunya masih ‘perang’ dan baru akan dilakukan baku panah antar kampong. Hahahaha. Ya udah, kami kembali lagi deh ke kantor dengan tangan hampa. 
  • Kalau berencana mau ke daerah pelabuhan Pomako, ya lebih baik dilakukan saat matahari masih bersinar dengan cerah. Dari kota Timika menuju Pomako, dibutuhkan waktu sekitar 50 menit atau mungkin lebih dari 40 km. sepanjang perjalanan Mapuru jaya menuju Pomako, di kanan kiri jalan, anda pasti akan bertemu dengan masyarakat pantai, yaitu suku Kamoro. Kalau sudah mau mendekati pelabuhan setelah melewati pertamina, anda akan menemukan Kampung masyarakat Asmat. 
    panen buah matoa ❤
  • Tapi… jangan panik, masyarakat disana apalagi ibu-ibunya pada dasarnya baik kok, mereka itu lucu-lucu lho dan senang banget kalau kami kunjungi, mereka merasa diperhatikan. Saya aja sampai galau banget waktu memutuskan harus resign atau lanjut kontrak disana, karena gimana ya, seperti sudah terikat batin dengan bayi-bayi lucu itu.. hiks
Timika kan terkenal juga dengan malarianya, pernah kena sis?
  • Puji Tuhan, dua tahun lebih di Timika, saya tidak terkena malaria. How lucky I am. Malaria ini dibawa oleh nyamuk Aedes, mereka beredarnya pada saat menjelang sore hingga menjelang pagi. Jadi, kalau ada rencana pergi malam hari atau saat berada di luar rumah saat mulai sore jam 6, lebih baik pakai pakaian yang panjang atau menggunakan lotion nyamuk. Oiya, makan yang banyak juga biar sehat. Saya sih lebih sering makan yang banyak biar kuat. Karena kalau saya pergi malam, saya sering bandel tidak pakai lotion maupun pakaian panjang.
  • Malaria memiliki gejala yang mirip dengan batuk pilek. Anda akan merasa pusing, nyeri, demam yang tidak menentu, kadang dingin kadang demam pada malam hari.  Bila anda dalam waktu yang lama maupun sedang dalam kunjungan singkat di Timika / daerah endemic malaria lainnya dan mengalami gejala yang mirip dengan malaria, jangan panic. Segera periksakan diri anda ke dokter, minta di tes malaria, setelah itu bila positif malaria, dokter akan memberi obat biru dan/tanpa obat kuning. Minum obat sampai habis dan jangan bolong. Penyakit malaria akan jauh terhempas setelah itu .
  Dapet apa sis tinggal di Timika dua tahun lebih?
  • Waktu mau pertama kali mau ke Timika saya tidak memiliki bayangan takut sedikitpun, perjalanan kesana pun hanya berbekal tiket berangkat yang diberi kantor dan saya pun belum tanda tangan kontrak, nekat banget ya. Bahkan saat tiba disana saya mendapat beberapa pengalaman yang kurang menyenangkan dari masyarakat saat bekerja di lapanganpun tidak lantas membuat saya menyerah, iya saya bertahan. Saya bertahan karena saya merasa bahwa pekerjaan ini memang pekerjaan yang saya inginkan. Saya ingin pekerjaan yang bisa membantu orang dan bermanfaat bagi sesama. 
  • Selain itu ,saya juga memiliki kesempatan untuk bisa mengenal teman-teman saya dari berbagai latar belakang daerah. Dari Sumatera sampai Papua semua tumplek blek di timika. Oiya, mumpung di Papua ya udah deh, saya jadi punya kesempatan untuk jalan-jalan bareng teman-teman ke Jayapura dan juga Raja Ampat dalam waktu yang berbeda ya pastinya. Dan bukanlah hisapan jempol belaka bahwa Papua ada surga kecil yang jatuh ke bumi… wohooooooo…… lucky I am.
  • Pengalaman pertama kali menjadi relawan 1000 guru papua. Sangat menyenangkan bisa memiliki kesempatan untuk merasakan menjadi guru dalam waktu sehari saja. Sayangnya, karena kegiatan tersebut selalu diadakan Sabtu-Minggu, saya tidak bisa mengikut kegiatan 1000 guru papua yang lain (alias cutinya udah habis) hahahaha.
    lupa lagi ngapain. hahahaha.
 Liburan usai, Tiba di tahun kedua saya bekerja, apa lagi yang bisa saya berikan dengan latar belakang saya S1 psikologi ini. Pikiran saya berkecamuk antara tetap tinggal tapi ilmu saya ga nambah dan saya tahu beberapa kasus butuh psikolog namun SDM minim sekali. Saya pernah sekali ikut sebagai volunteer 1000 Guru Papua dan mengajar anak di daerah Iwaka pada hari Sabtu dan bermain bersama mereka di hari Minggu. Sayangnya saya hanya bisa ikut di batch itu saja, karena Sabtu saya bekerja jadi tidak enak kalau ikut lagi dan harus cuti lagi. Puncaknya terakhir, saya mengikuti seminar neuro senso untuk anak berkebutuhan khusus dan disitulah tekad saya semakin terbentuk untuk lanjut sekolah profesi psikologi, supaya saya bisa berkontribusi lebih bagi mereka.
Terlebih dulu saya meminta restu orang tua dan mengungkapkan niat saya untuk sekolah lagi. Iya, saya harus minta ijin. Di usia saya ini, saya tidak mau orang tua kecewa dan mendapati fakta bahwa anak bungsunya ini akan tidak lagi berpenghasilan tetap dan berubah status menjadi mahasiswa. Praise to the Lord, orang tua saya ikhlas dan mengembalikan keputusan di tangan saya. Boss 01 di Timika pun sangat suportif mendukung anak buahnya ini untuk lanjut kuliah, bukan secara biaya, namun untuk ilmu dan masalah data, mereka sangat mempersilahkan kami untuk mengolah data apabila kami ingin menggunakannya untuk kepetingan data thesis kami kelak.
Setelah berbekal informasi pendaftaran Magister Profesi Psikologi UGM yang baru dimulai Mei 2017, akhirnya Desember 2016 kemarin saya memutuskan untuk pamit pada boss 01 kembali pulang ke Jogja untuk mempersiapkan rencana kuliah saya. Waktu persiapan yang lama memang, tapi saya merasa bila saya masih di Timika, saya harus bolak-bolik mengurus syarat administrasi dan juga pasti kalau disana jadi malas belajar. Hehehehe….
Dan….. inilah akhir cerita perjalanan saya di Timika bekerja sebagai research assistant bagian neurodevelopmental di Yayasan Pengembangan dan Kesehatan Masyarakat Papua.
Dengan kata lain, Perjalanan baru mencari kampus baru pun dimulaiii……….


---- Ini ceritanya jadi panjang banget ya, padahal niatnya pendek hahahah----
---- perjalanan berburu kampus mapro di Jogja saya ceritakan di postingan selanjutnya ya---

Selamat menikmati perjalanan hidup ya teman-teman. Salam eme neme yauware. 

Komentar

Postingan Populer